Mendalami Dunia Mechanical Keyboard, Sebuah Kesan

Kehadiran papan ketik atau keyboard adalah eksistensi yang tak terpisahkan dengan personal computer, baik itu desktop maupun laptop. Kehadiran keyboard tak bolehkannya lepaskan diri dari profesi penulis, yang mana saat ini tengah dalami dunia mechanical keyboard yang goda kenyamanan ekstra.

Meski baru resmi geluti aktivitas mechanical keyboard ini dua bulan lamanya, namun berhasil desak penulis berpikir sensasi gunakan switch dan layout berbeda. Faktanya, ada bermacam switch di luaran sana yang tawarkan sensasi berbeda, ditambah variasi layout yang tawarkan pemakaian berbeda.

Sebagai penikmat dunia teknologi, wajar rasanya memberikan kesan terhadap suatu barang ketika genap digunakan beberapa waktu. Oleh karenanya, izinkan penulis torehkan kesan lalui bahasan kali ini terhadap dunia mechanical keyboard yang tawarkan sensasi misterius.

Nah, buatmu yang tertarik dengan bahasan enteng yang bahas dunia mechanical keyboard, tak ada salahnya baca sampai habis.

Disclaimer:

Bahasan ini diangkat oleh seseorang yang belum pernah menyentuh dunia mechanical keyboard sama sekali, dan hanya gunakan membrane keyboard selama gunakan komputer. Bahkan sehabis gunakan mechanical keyboard selama dua tahun, rasanya hampir tidak ada beda secara masif, jadikan bahasan ini tetap terarah.

Dunia Mechanical Keyboard, Tidak Sekedar Sensasi

Di media sosial, khususnya Facebook, banyak sekali orang yang katakan bahwa dunia mechanical keyboard cukup menarik untuk ditekuni. Tidaklah satu dua orang yang gembar-gembor bahwa dunia papan ketik mekanikal ini menarik dan buat candu karena banyaknya variasi switch dan layout. Untuk makin yakinkan orang, jaminan kenyamanan untuk gaming dan typing ditekankan, dan entah gimana bisa konklusikan bahwa membrane keyboard tak enak ketimbang mechanical keyboard.

Bahkan, tidaklah sedikit orang-orang atau hobbyist dunia mechanical keyboard yang rela habiskan dana untuk aktivitas ini. Entah coba switch, layout, lube, keycaps, dan lain-lain yang bila ditotal, takkan masuk ‘murah’ sama sekali.

Besar kemungkinan yang dicari orang-orang ialah ‘sensasi’, namun menurut observasi penulis, tidaklah seremeh dan semudah itu. Rasanya, ada hal lain yang kerap jadi evaluasi para hobbyist mechanical keyboard yang tak tergapai awam selevel penulis.

Tentu, bahasan kali ini bukanlah sesuatu yang harus buatmu cari referensi sana-sini, karena penulis coba berikanmu gambaran besar dari ‘hobi’ yang konon cukup habiskan dana ini. Alasan di balik bahasan kali ini tidak lain adalah coba berikan para pembaca gambaran seputar dunia mechanical keyboard.

Usaha Penulis Mendalami Dunia Mechanical Keyboard

Kini penulis coba ajakmu tuju bahasan utama, di mana penulis akan coba berikanmu kesan ketika mendalami dunia mechanical keyboard tersebut. Kata ‘mahal’ rasanya sah temani ‘hobi’ yang menurut kami nyatanya cukup kuras isi dompet. Mulai dari switch, lalu ke layout, yang mana akan butuhkan premium berbeda.

Teruntuk kamu yang benar-benar tertarik dengan dunia mechanical keyboard, switch outemu biasanya kerap direkomendasikan karena harganya relatif terjangkau. Umumnya, varian red, blue, dan brown adalah yang kerap ditanam pada mechanical keyboard yang sasar entry-level.

Generalisasi terhadap jenis switch entry-level tersebut pun dibuat demi mudahkan mereka yang tertarik dengan luasnya dunia papan ketik mekanikal ini.

Mulai dari red switch yang umum direferensikan untuk para gamers. Kedua adalah blue switch untuk mereka yang butuhkan feedback dan bunyi keras. Dan brown switch yang ditekankan penuhi aktivitas sehari-hari dan produktivitas.

Artinya, generalisasi tersebut sukses kerucutkan dan mudahkan pemilihan switch ideal yang sesuai dengan preferensi atau niche tiap pemakainya. Namun, hemat penulis, rasa-rasanya generalisasi ini takkan relevan untuk waktu lama karena switch baru akan muncul, niche dari switch lama.

1. Kesan Gunakan Abkonkore K660 Arc (Outemu Blue Switch)

Bulan Agustus Tahun 2020, tepatnya dua tahun lalu adalah awal penulis terjun ke dunia mechanical keyboard. Setelah bermacam evaluasi sana-sini, alasan di balik tertariknya penulis beli Abkoncore K660 Arc ialah harganya yang murahnya kebangetan.

Tanpa wawasan mechanical keyboard sama sekali, penulis coba beli K660 dua unit, satu untuk penulis, dan satu untuk adik penulis. Ya, kapan lagi bisa dapatkan mechanical keyboard dengan modal 160 Ribuan Rupiah.

Setelah menanti empat hari, akhirnya barang yang dinanti tiba, dan saking tak sabarnya, kami jemputnya langsung di ekspedisi.

Proses unboxing pun dilakukan, dan aura mechanical keyboard kental terpancar meski hanya dibanderol 160 Ribuan Rupiah. Bila dikomparasi dengan membrane keyboard di harga setaraf, bisa disimpulkan bahwa build quality dari Abkoncore K660 Arc ini oke punya. Serius, mechanical keyboard ini benar-benar miliki build kokoh.

Urusan switch, ternyata K660 hanya tawarkan Outemu Blue Switch yang baru penulis ketahui bahwa bukan mechanical keyboard tersebut tidak hot-swapable. Bukan masalah besar, lantaran banderolnya yang bisa dibilang tak seberapa bila komparasikannya dengan bermacam keyboard di rentang harga yang sama.

Sekitar dua bulan awal-awal coba mechanical keyboard besutan Abkoncore tersebut, penulis berani simpulkannya hanya dengan satu kata: berisik. Adalah hal yang wajar, berkat eksistensi Outemu Blue Switch tertanam di dalam papan ketik yang kebetulan diskon ini.

Untuk kebutuhan gaming dan typing, suara yang dihasilkan termasuk keras dan berhasil distraksi penulis ketika gunakannya, bahkan setelah dibantu headset. Ya, sekeras itulah suara dari blue switch dengan karakteristik tactile dan clicky.

Genap dua tahun gunakan keyboard tersebut, dan termotivasi oleh keinginan untuk coba-coba, akhirnya penulis coba beranikan diri untuk beli mechanical keyboard keduanya.

2. Kesan Gunakan Redragon K630 (Outemu Brown Switch)

Bulan Mei Tahun 2022, adalah momen-momen ‘krusial’ untuk coba brown switch yang ‘konon katanya’ berikan sensasi tactile, namun tak seberisik blue switch. Maklum, di daerah penulis bisa dikatakan masih sedikit yang gunakan mechanical keyboard untuk temani aktivitas kantoran maupun sehari-hari.

Sekedar tambahan, alasan lain di balik pembelian papan ketik mekanikal ini tak lain karena jumlah cashback di salah satu e-commerce sudah cukup untuk membelinya. Terima kasih cashback, 300 Ribuan Rupiah well spent!

Bermodalkan wawasan seadanya, ternyata Redragon K630 masuk kriteria yang penulis butuhkan: tidak berisik, ringkas. Penulis berani katakan bahwa ‘modal’ untuk beli mechanical keyboard dengan layout 60% ini benar-benar worth it, bahkan jika tanpa cashback.

Selain tak berisik dan ringkas, kelebihan dari Redragon K630 terletak pada Detachable USB-C, dan sudah hot-swapable. Pokoknya termasuk kekinian deh, kabel bisa di-custom, switch pun bisa diganti, walau belum sempat dan terpikirlnu untuk lakukannya. Intinya, setup bisa tampil lebih minimalis dan maksimal di saat yang sama.

Satu bulan semenjak Redragon K630 gantikan keyboard utama, aktivitas harian gaming dan typing dapat dieksekusi dengan lebih nyaman. Entah dikarenakan actuation force atau apalah itu, namun Outemu Brown Switch tampak mampu dominasi aktivitas sehari-hari dengan mudahnya tanpa berisik.

Aktivitas typing pun kini dirasa lebih menyenangkan karena penulis tak terdistraksi oleh suara blue switch yang kelewat berisik. Bahkan untuk kebutuhan gaming tipis-tipis, jalankan game di emulator, sampai dengan Genshin Impact pun termasuk memuaskan.

3. Timbul Keinginan untuk Coba Switch dan Layout Berbeda

Setelah coba blue dan brown switch, timbul dahaga untuk coba layout berbeda, yaitu ten-keyless (TKL), di mana tombol numpad ditiadakan. Tidak hanya layout, muncul pula rencana untuk coba switch-switch di luar sana yang bisa jadi tawarkan sensasi berbeda. Namun, dahaga tersebut harus direm, karena hobi mechanical keyboard cukup menyita resource.

Kendati demikian, penulis aktif pantau produk incaran di e-commerce bila sewaktu-waktu ada diskon di barang incaran. Yang namanya diskon, tentu cukup sulit untuk ditolak, ‘kan?

Di saat yang sama, menambah referensi seputar mechanical keyboard akan cukup membantu, karena berikanmu gambaran besar tentang fitur yang ditawarkannya. Tidak hanya itu, bolehkanmu tambah wawasan seputar modding, meski saat ini penulis pun kurang tertarik lakukannya.

Alternatif lain yang ‘dirasa’ penulis murah meriah ialah dengan membeli barebone mechanical keyboard dengan layout 68%. Yah, tampaknya ‘hobi’ ini akan jadi jalan yang cukup panjang.

4. Ada Kendala di Harga dan Peruntukan (Termasuk Mod)

Pernyataan di atas rasa-rasanya cukup aman diucapkan, karena faktanya, mechanical keyboard umumnya ada kendala di harga. Tak lupa punchline ‘price-to-performance’ yang kerap dilontarkan penulis ambil peranan cukup vital dalam tentukan mechanical keyboard yang berkualitas.

Jutaan Rupiah hanya untuk mechanical keyboard, papan ketik mekanikal doang? Entah wawasan penulis yang belum matang, atau mungkin sudah ‘hobi’ aktivisnya, namun rasanya kurang worth untuk seniat itu.

Besar kemungkinan kendala di harga ini hanya dialami oleh penulis, yang kurang rela sisihkan resource hanya demi papan ketik mekanikal premium punya. Kembali penulis tegaskan bahwa keyboard hanyalah perantara input karakter ke dalam komputer.

Bahkan modifikasi, rasanya tak terlalu dibutuhkan dan resource-intensive karena kembali ke poin awal, keyboard hanya media input setidaknya menurut penulis. Yah, penulis tak boleh judge hobi orang, karena bisa banget kok aktivitas modding ini termasuk menyenangkan untuk dilakukan. Penulis bahkan khilaf membeli keycaps Genshin Impact dengan tema Yae Miko, kok!

Kesimpulan

Selaku content writer yang benar-benar butuhkan feel yang tepat, penulis berani simpulkan bahwa hampir tak ada beda masif dari membrane keyboard dan mechanical keyboard ketika gunakannya untuk produktivitas.

Sama halnya dengan gaming, rasanya generalisasi switch yang ada justru akan buat beberapa orang akan nilai bahwa hobi keyboard adalah hobi yang cukup ribet. “Keyboard tok ae dipusingno – Penulis”

Dua tahun gunakan mechanical keyboard dan lebih dari dua dekade gunakan membrane keyboard rasa-rasanya cukup solid untuk jadi dasar referensi. Tampaknya penulis harus diasup red switch yang ‘konon katanya’ oke untuk gaming, namun tampaknya tak bisa dieksekusi dalam waktu dekat.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa selaku medium input karakter ke komputer, atau alasan ergonomis, rasanya dasar yang termasuk berlebihan. Ketimbang modding keyboard, penulis lebih suka alokasikan dana untuk upgrade komputer karena lebih cost-effective. Yah, namanya beda kepala, tentu beda hobi.


Buat kalian yang tertarik untuk membaca berita menarik lainnya seputar Tech, bisa langsung kunjungi laman Bima. Untuk informasi lebih lanjut dan tawaran kerja sama, kalian bisa hubungi kami melalui redaksi@umatgame.com.

Bima

Mostly cover about technology, especially computers. Invest a lot of time on local e-commerce (and sometimes globally), to make sure that my posts is relevant.

3 thoughts on “Mendalami Dunia Mechanical Keyboard, Sebuah Kesan

Leave a Reply

Your email address will not be published.